R
I N G K A S A N
Rose
Hanie adalah seorang wanita muda yang
cantik jelita. Namun hidupnya amat sederhana. Rashid Bey Namaan, seorang pemuda
gagah dan kaya raya. Lahir dan dibesarka di Beirut
namun sekarang menjaadi warga Lebanon .
Ia baik hati dan dermawan namun ia hanya melihat pada hal-hal yang lahirah
semata dan bukan pada kenyataannya.
Bey
Namaan memperistrikan Rose Hanie karena tergila-gila akan kecantikannya.
Kepada perempuan itu ia mempersembahkan
seluruh hasil jerih payahnya, seluruh denyut nadinya, dan setiap detak
jantungnya. Kepada perempuan itu diserahkannya juga setiap hasil kerja keras
dan buah ketekunannya.
Namun
akhirnya ia menyadari,
bahwa hati perempuan yang berusaha dibelinya dengan amat
mahal itu, ternyata malahan diberikan secara cuma-cuma dan tulus ikhlas kepada
laki-laki lain, demi kesucian cinta yang terdalam dan tersembunyi. Sekarang
dari wajahnya terpancar pikirannya yang galau karena pengalaman pahit yang
menimpanya. Matanya yang memancarkan suasana duka menyiratkan hatinya yang
hancur lebur dan jiwanya yang merana.
Sekarang
Rose Hanie tinggal di gubuk reot yang dikelilingi bunga-bunga dan pepohonan.
Bukan lagi di istana megah yang dipenuhi emas berlian. Ia bertemu dengan
seoraang pria di bawah langit yang
mendung terlihat cahaya lembut terpancar dari mata seorang lelaki yang berjalan
dengan putus asa di jalan setapak kehidupan. Lama kuberbincang dengannya, dan
aku mulai menyukainya. Akhirnya kami bersatu dengan pria yang kucintai, ia dan
aku menyala bagaikan obor yang berasal dari tangan Tuhan sebelum dunia
dijadikan. Tak kan
ada kekuatan di bawah matahari ini yang dapat mengambil kebahagiaannya. Karena
kebahagiaan tersebut berasal dari dua jiwa yang bersatu, yang diliputi oleh
pengertian, dipancarkan oleh cinta, dan dilindungi oleh cinta.
Di mata
Tuhan dia tidak setia dan melakukan perzinahan ketika dia berada di rumah Bey
Namaan, karena ia dijadikan istri berdasarkan adat, tradisi, dan oleh
ketergesa-gesaan. Sekara ng dia murni dan bersih, karena hukum cinta telah
membebaskannya dan menjadikan dia terhormat dan setia. Meskipun menurut
pandangan mereka aku tercemar, karena mereka menghakimi jiwa berdasarkan apa
yang tampak di luar, dan menilai jiwa dengan takaran materi.
Nasib telah membawa Rose Hanie ke dalam arus
peradaban modern yang picik dan menyesakkan. Mengambilnya dari pelukan alam
yang teduh dan rindang, lalu dengan kasar menempatkan dirinya di sela-sela kaki
kerumunan orang, tempat dia menjadi mangsa yang menderita karena siksaan kota .
Kita adalah budak hasrat dan keinginan,
sementara mereka adalah tuan-tuan atas kepuasan. Kita selalu meminum kepahitan,
keputus asaan, ketakutan, dan kecemasan dari cangkir kehidupan, sementara
mereka meminum nektar murni rahmat Tuhan.
Sekarang siapa yang patut disalahkan?
Rose Hanie yang mencari kebebasan dan kebahagiaan cintanya ataukah Rashid Bey
Namaan yang mempertahankan prinsip dan cintanya?
Jawabannya tergantung dari cara kita
memandang masalah ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar